Berita Jepang dan Indonesia Terkini
Budaya  

Tako Layang-Layang Jepang yang Populer

Tako layang-layang khas Jepang ( foto wikipedia)

halojapin.com. Masyarakat Jepang tidak menganggap tako atau layang-layang sebagai sebagai hobi atau permainan semata. Namun tako dianggap sebagai sebuah karya seni dan budaya yang bernilai tinggi yang harus dilestarikan. Untuk itu di tiap tahunnya ada festival layang-layang yang besar dan menjadi daya tarik wisatawan seperti Hamamatsu Festival di Shizuoka tiap bulan Mei. Selain itu ada yang mengkoleksi layang-layang seperti Museum Tako no Hakubutsukani di Tokyo.


Layang-layang atau tako ini mulai masuk ke Jepang sejak zaman Heian (794-1185). Namun baru populer menjadi mainan masyarakat pada era Edo. Dari sini muncul berbagai kreasi layang-layang dengan berbagai bentuk dan desain gambar, menjadikan layang-layang terlihat lebih menarik saat diterbangkan ke udara. Lambat laun layang-layang menjadi mainan khas rakyat Jepang dengan berbagai perayaannya.
Di Jepang tako ini juga dipertandingkan dalam Festival. Untuk memotong benang layang-layang milik lawan, sebagian masyarakat menggunakan serbuk kaca dan serpihan kayu pohon Tar.

Pada Periode Edo, Banyak layang-layang besar yang mengudara di seluruh Jepang,sehingga banyak Samurai Edo yang menghabiskan uang setiap tahun untuk memperbaiki atap rumahnya yang rusak tertimpa layang-layang. Di Nagasaki, pada masa itu diterbitkan larangan untuk tidak bermain layang-layang di areal pertanian.

Ditengok dari sejarahnya layang-layang pada awalnya diciptakan oleh filsuf China bernama Mozi dan Gongshu abad ke 5 SM. Awalnya layang-layang digunakan sebagai pesan untuk misi penyelamatan. Menurut sumber arsip China kuno yang ada dari abad pertengahan, layang-layang pada saat itu digunakan untuk mengukur jarak, menguji arah angin serta sebagai komunikasi tentara. Dari China layang-layang kemudian menyebar ke Korea, Jepang, Asia Tenggara dan Dunia Barat.

Karakteristik tako Jepang pada umumnya tak berbeda jauh dengan layang-layang di negara lain. Namun ada beberapa spesifikasi khusus yang membedakannya


Pada umumnya layang-layang tradisional atau tako ini dibuat dari kertas yang membentang diatas kerangka bambu. Desainnya heksagonal dan memiliki penopang di kedua sisinya serta memiliki suara mendengung saat mengudara. Penopangnya juga bertumpu di tengah layang-layang agar dapat mudah dikendalikan dan dapat terbang lebih tinggi.

Karakteristik tako Jepang pada umumnya tak berbeda jauh dengan layang-layang di negara lain. Namun ada beberapa spesifikasi khusus yang membedakannya yaitu:

Pertama, tulang kerangka tako sedikit lebih lebar dari layang-layang di negara lain, karena layang-layang Jepang dan cenderung lebih berat di bagian atas. Beratnya bertahap dari bawah ke atas dengan menggunakan bambu yang terbalik, dengan basis yang lebih luas dari batang bambu runcing di bagian atas.

Dan tulang penopang horizontal juga lebar dan berat dengan skala yang sama, tulang penopang terberat berada diatas dan turun ke bawah dan sisi ringan berada di tepi layang-layang. Model seperti ini terlihat jelas pada layang-layang yanase. Selain itu layang-layang pertempuran biasanya mampu bertahan lebih kuat dibanding layang-layang konvensional.

Kedua, dari segi desain. Para seniman layang-layang Jepang sering menggunakan bubuk pigmen warna yang dicampur dengan air untuk gambar layang-layang mereka. Gambar pertama diuraikan dalam bak tinta sumi yang tidak menggumpal atau lilin parafin diaplikasikan saat cairan masih dalam keadaan panas.

Pembuat layang-layang kertas juga membuat khusus aplikasi cat khusus. Model layang-layang Jepang saat ini diadaptasi dari 300 sampai 400 model di masa lampau. Namun banyak juga model layang-layang yang bersifat flat tanpa corak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *