Berita Jepang dan Indonesia Terkini
Berita  

Sebuah Pisau Cukur Orang Suci Abad Pertengahan Dipamerkan di Kyoto

Shinran, tokoh agama Budha Jepang yang sangat populer (Foto dok. wikipedia)

halojapin.com. sebuah pisau cukur pada abad pertengahan dipamerkan di Kyoto. Pisau cukur milik salah satu orang suci Budha bernama Shinran ini dapat dilihat mulai tanggal 25 Maret hingga 29 April di Kuil Higashi Hongaji. Pameran ini merupakan bagian dari merayakan peringatan 850 tahun kelahiran Shinran, pendiri salah satu sekte Buddha terbesar di Jepang.


Dilansir dari laman asahi.com untuk kali pertama pisau cukur ini ditampilkan. Sebuah upacara diadakan di kuil Shoren-in di sini pada tanggal 14 Maret sebelum dipinjamkan ke kuil Higashi Honganji. Pisau cukur sepanjang 21 sentimeter diyakini telah digunakan untuk mencukur rambut Shinran ketika dia dilantik menjadi pendeta Buddha pada usia 9 tahun.


Shinran adalah pendiri sekte Jodo Shinshu, adalah salah satu orang suci Buddha paling terkenal di Jepang.

Disebutkan bahwa pisau cukur itu diserahkan dari Jiko Higashifushimi, kepala biara kuil Shoren-in, kepada Wataru Kigoshi, rekannya di kuil Higashi Honganji. “Seperti yang diketahui oleh setiap anggota sekolah Jodo Shinshu kami, Shinran memutuskan untuk menjadi imam ketika dia berusia 9 tahun,” kata Kigoshi. Pisau cukur telah disimpan di kuil Shoren-in, yang dipimpin oleh Jien, seorang pendeta terkenal, yang diyakini telah mencukur rambut Shinran pada ritual pelantikan.

Shinran adalah pendiri sekte Jodo Shinshu, adalah salah satu orang suci Buddha paling terkenal di Jepang. Ia dikenal dalam novel dan drama populer yang menggambarkan kehidupan dan ajarannya. Biksu Buddha lahir di Hino atau sekarang Fushimi, Kyoto dan hidup pada Zaman Kamakura. Shinran adalah murid Honen dan pendiri sekte Jodo Shinshu di Jepang. Shinran Shonin hidup di era inilah tatanan lama runtuh dan Buddhisme Jepang berkembang.

Ia dilahirkan dalam keluarga aristokrat yang mungkin tidak disukai oleh Pengadilan. Ketika masih berusia 9 tahun telah ditahbiskan sebagai biarawan pemula dan kemudian memasuki kuil Hieizan Enryakuji di Gunung Hiei, Kyoto. Dibawah bimbingan seorang biksu, ia mulai belajar di kuil Tendai selama puluh tahun. Keakrabannya dengan Buddhisme terlihat dalam karya-karyanya menunjukkan berusaha keras dalam studinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *